Kamis, 22 Maret 2012

CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

Makalah
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
 Untuk memenuhi tugas mata kuliah

Model dan Strategi Pembelajaran

Dosen pembimbing:
Imam Azhar , M. Pd













Oleh:
Bashoirul Anam
Hanis Susanti


PROGRAN STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI  )
INTEGRATED B1 & B2
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUNAN DRAJAT
( S T A I D R A )
Kranji Paciran Lamongan
Tahun 2011



DAFTAR ISI

COVER……………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI………………………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang……………………………………………………………….
  2. Rumusan masalah……………………………………………………………
  3. Tujuan………………………………………………………………………..

BAB II PEMBAHASAN
  1. Pengertian Contextual Teaching Learning?
  2. Teori – teori yang melandasi CTL?
  3. Karakteristik CTL?
  4. Prinsip - prinsip CTL?
  5. Pendekatan CTL?
  6. Factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
  7. Komponen CTL?

BAB III PENUTUP
  1. Simpulan …………………………………………………………………….
  2. Saran…………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah dalam pembelajran di sekolah selama ini adalah proses pembelajaran yang kuarmng menyenangkan dan memberdayakan sehingga berujung pada rendahnya hasil belajar siswa.
Sering di temukan di lapangan bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik atau mengubah pembelajaran yang memberdayakan. Hal itu terjdi , salah satunya karena kegiatan tersebut tidak di dasarkan pada pemilihan dan penerapan model pembelajran tertentu yang mengkomodir karakteristik subjek didik. Konsekuensinya, hasil belajar yang di peroleh siswa rendah.
Timbul pertanyan , apakah ada model pembelajaran yang menyenangkan dan memberdayakan dan apakah mungkin di kembangkan suatu model pembelajran yang sederhana, namun sistematik dan bermakna yang dapat di gunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi dan hasil belajar.
Berkenaan dengan hal itu, maka dengan memperhatikan berbagai teori dan konsep belajar yang telah ada, dalam tulisan ini, penulis akan mengupas tentang model pembelajaran yang efektif bagi siswa dan guru agar tercipta proses pembelajaran yang menyenangkan dan memberdayakan.

B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Contextual Teaching Learning?
2.      Apa saja Teori – teori yang melandasi CTL?
3.      Bagimana Karakteristik CTL?
4.      Sebutkan Prinsip - prinsip CTL?
5.    Bagaimana Pendekatan CTL?
6.      Apa Factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
7.      Sebutkan Komponen CTL?



C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Contextual Teaching Learning?
2.      Untuk mengetahui Teori – teori yang melandasi CTL?
3.      Untuk mengetahui Karakteristik CTL?
4.      Untuk mengetahui Prinsip - prinsip CTL?
5.    Untuk mengetahui Pendekatan CTL?
6.      Untuk mengetahui Factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
7.      Untuk mengetahui Komponen CTL?

BAB II
PEMBAHASAN
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

A.                    Pengertian Contextual Teaching Learning
Contextual Teaching Learning merupakan suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural. Sehingga peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke permasalahan lainnya.

B.                 Teori yang melandasi CTL
Beberapa teori yang berkembang berkaitan dengan metode Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut :
a. Knowledge-Based Constructivism
Teori ini beranggapan bahwa belajar bukan menghafal, melainkan mengalami, di mana peserta didik dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, melalui partisipasi aktif secara inovatif dalam proses pembelajaran.
b.      Effort-Based Learning/ Incremental Theory of Intellegence
Teori ini beranggapan bahwa bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan mendorong peserta didik memiliki komitmen terhadap belajar.
c.       Sicialization
Teori ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan terhadap tujuan belajar. Oleh karena itu, faktor sosial dan budaya merupakan bagian dari sistem pembelajaran.
d.      Situated Learning
Teori ini beranggapan bahwa pengetahuan dan pembelajaran harus situasional, baik dalam konteks secara fisik maupun konteks sosial dalam rangka mencapai tujuan belajar.
e.       Distributed Learning
Teori ini beranggapan bahwa manusia merupakan bagian integral dari proses pembelajaran, yang di dalamnya harus ada terjadinya proses berbagai pengetahuan dan bermacam-macam tugas.

C.      Karakteristik CTL
Karakteristik Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut :
a.       Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative).
b.      Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist).
c.       Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning).
d.      Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual.
e.       Menggunakan multi media dan sumber belajar.
f.       Cara belajar siswa aktif (student active learning).
g.      Sharing bersama teman (take and give).
h.      Siswa kritis dan guru kreatif.
i.        Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
j.        Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.

D.     Prinsip CTL
Prinsip-prinsip Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut :
a.       Kesaling-Bergantungan ( Interdependensi )
Prinsip ini membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa datang.
Prinsip ini mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik, stakeholder, dan lingkungannya.
Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif dalam kelompok, membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain, saling mengemukakan gagasan, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpiulkan data, mengolah data, dan menemukan alternatif pemecahan masalah.
 Prinsipnya menyatukan berbagai pengalaman dari masing-masing peserta didik untuk mencapai standar akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya.

b.      Perbedaan ( Diferensiasi )
Prinsip diferensiasi adalah mendorong peserta didik menghasilkan keberagaman, perbedaan, dan keunikan. Terciptanya kemandirian dalam belajar (self-regulated learning) yang dapat mengkonstruksi minat peserta didik untuk belajar mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata, dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness).
Terciptanya berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) di kalanga peserta didik dalam rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data, guna pemecahan masalah.
Terciptanya kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan dan mengembangkan gaya belajar (style of learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin secar sktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

c.       Pengaturan diri
Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran dietur, dipertahankan, dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh potensinya. Peserta didik secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
Melalui interaksi antarsiswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan menemukan sisi keterbatasan diri.

d.      Penilaian Autentik ( Authentic Assessment )
Penggunaan penilaian autentik, yaitu menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya ke dalam situasi konstektual secara signifikan.

E. Pendekatan CTL
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam metode Contextual Teaching Learning  adalah sebagai berikut :
a.       Problem-Based Learning
Problem-Based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar berpikir kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esnsial dari bahan pelajaran.
b.      Authentic Instruction
Authentic Instruction, yaitu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik mempelajari konteks kebermaknaan melalui pengembangan keterampilan berpikir dan mellakukan pemecahan masalah di dalam konteks kehidupan nyata.
c. Inquiry- based Learning
                  Inqury- based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran dengan mengikuti   metologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
d. Project- Based Learning
Project- Based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik untuk bekerja mandiri dalam mengkontruksi pembelajrannya ( pengetahuan dan ketrampilan baru), dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
e. Work- based Learning
Work- based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari bahan ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja.

f. Servis Learning
Servis Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.

g. Cooperatif Learning
Cooperatif Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil peserta didik untuk berkerja sama dalam rangka mengoptimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

F. factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL
Berikut ini merupakan beberapa factor yang harus di pertimbang kan dalam metode Contextual Teaching Learning.
1.      Merencanakan pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental ( developmentally appropriate)
2.      membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups)
3.      memperti,bangan keberagaman peserta didik (idsversity of student).
4.      menyediakan lingkungan yangmendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning ) dengan tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan stategi, dan motivasi berkelanjutan.
5.      memperhatikan multi intelegensi
6.      menngunakan teknik bertanya  (questioning ) dalam rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan ketrampilan berfikir tingkat tinggi.
7.      mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia di beri kesempatan untuk belajar menemukan dan mengontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ( contruktivism)
8.      memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
9.      mengembangkan rasa ingintahu (curiueity) di kalngan peserta melalui pengajuan pertanyaan (questioning)
10.  menciptakan masyarakat belajar (learning comonity) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik..
11.  memodelkan (modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru.
12.  mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentanga apa yang sudah di pelajari.
13.  menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)

G.     Komponen CTL
beberapa komponen yang ada di dalam metode contextual Teaching learning adalah sebagai berikut.
1.      kontruktivisme ( Contruktivisme)
Contextual Teaching Learning di bangun dalam landasan kontruksivisme yang mermiliki anggapan bahwa pengetahuna di bangun pesrta didik secra sedikit – demi sedikit (incremental ) dan hasilnya di perluas melalui konteks terbatas.
2.      Menemukan (Inquiry)
Proses pembelajaran yang di lakukan peserta didik merupakan proses menemikan (inquiry) terhadap sejumlah pengetahuan dan ketrampilan. Proses inquiry terdiri atas:
a.  Pengamatan ( observation)
b. Bertanya (questioning )
c.  Mengajukan dugaan(hipotesis)
d.   Pengumpulan data ( data gathering)
e.  Penyimpulan ( conclusion)
3.      Bertanya ( Questioning )
Proses bertanya begitu berarti dalam rangka :
a.       Membangun oerhatian
b.      Membangun minat
c.       Membangun motivasi
d.      Membangun sikap
e.       Membangun rasa keingintahuan
f.       Membangun interaksi antara sisiwa dengan siswa
g.      Membangkitkan interaksi antara siswa dan guru
h.      Interaksi antara siswa dengan lingkungannya secara kotekstual
i.        Membangun lebih banyak lagi pertanyaan yang di lakukan siswa dalam rangka menggali dan menemukan lebihbanyak informasi (pengetahuan dan ketrampilan yang di peroleh peserta didik).
4.      Masyarakat Belajar ( Learning Community )
Proses pembelajran merupakan proses kerja sama antara peserta didik dengan peserta didik , antara peserta didik dengan gurunya, dan antara peserta didik dengan lingkungannya.
Proses pembelajaran yang segnifikan jika di lakukan dalam kelompok – kelompok belajar, baik secara homogen maupun secara heterogen sehingga di dalannya akan terjadi berbagi masalah (sharing problem ), berbagi informasi ( sharing information), berbagi pengalaman  ( sharing experience ), dan berbagi pemecahan masalah ( sharing problem solving) yang memungkinkan semakin banyaknya pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh.
5.      Pemodelan ( Modeling )
Proses pembelajaran akan lebih berarti jika di dukung dengan adanya pemodelan yang dapat di tiru , baik yang bersifat kejiwaan ( identifikasi ) maupun yang bersifat fisik ( imitasi)yang berkaitan dengan cara untuk mengoperasikan sesuatu aktifitas, cara untuk menguasai pengetahuan atau keterampilan tertentu.
Pemodelan dalam pembelajaran bias di lakukan oleh guru, peserta didik, atau dengan cara mendatangkang nara sumbr dari luar ( outsourcing), yang terpenting dapat membantu terhadap ketuntasan dalam belajar (mastery learning ) sehingga peserta didik dapat mengalami akselerasi perubahan secara berarti.
6.      Refleksi ( Reflection )
Refleksi dalam pembelajaran adalah cara berfikir tentang  apa yang baru di pelajarinya atau berfikir ke belakang tentang apa – apa yang sudah di lakukan atua di pelajarinya di masa lalu.refleksi pembelajaran merupakan respon terhadap aktivitas atau pengetahuan dan ketrampilan yang baru di terima dari proses pembelajara. Peserta didik di tuntut untuk mengedepamnkan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur pengethuan dan ketrampilan yang baru sebagai wujud pengayaan atau revisi  dari pengetahuan dan keterampilan sebelumnya.
Guru harus dapat membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian, peserta didik akan memperolehsesuatu yang berguna bagi dirinya mengenai apa yang baru dipelajarinya.
Pada akhir proses pembelajaran sebaiknya guru menyisakan waktu agar peserta didik melakukan refleksi, yang diwujudkan dalam bentuk :
a. Pernyataan langsung peserta didik tentang yang diperoleh hari itu;
b.Jurnal belajar di buku pribadi peserta didik;
c. Kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
7.      Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assesment)
Penilaian merupakan proses pengumpulan data yang dapat mendeskripsikan mengenai perkembangan perilaku peserta didik. Pembelajaran efektif adalah proses membantu peserta agar mampu mempelajari (learning to learn) bukan hanya menekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir pereode.
Oleh karena penilaian menekankan pada proses pembelajaran, data yang dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Kemajuan belajar peserta didik dinilai dari proses, tidak semata dari hasil. Oleh karena itu, penilaian authentic merupakan proses penilaian pengetahuan dan keterampilan (performasi) yang diperoleh siswa dimana penilai tidak hanya guru, tetapi juag teman siswa ataupun orang lain.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Contextual Teaching Learning merupakan suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural.
Teori yang melandasi CTL
·         Knowledge-Based Constructivism
·         Effort-Based Learning/ Incremental Theory of Intellegence
·         Sicialization
·         Situated Learning
·         Distributed Learning
Karakteristik Contextual Teaching Learning:
·         Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative).
·         Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist).
·         Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning).
·         Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual.
·         Menggunakan multi media dan sumber belajar.
·         Cara belajar siswa aktif (student active learning).
·         Sharing bersama teman (take and give).
·         Siswa kritis dan guru kreatif.
·         Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
  • Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
Prinsip-prinsip Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut :
·         Kesaling-Bergantungan ( Interdependensi )
·         Perbedaan ( Diferensiasi )
·         Pengaturan diri
·         Penilaian Autentik ( Authentic Assessment )

Pendekatan yang digunakan dalam metode Contextual Teaching Learning  adalah sebagai berikut :
·         Problem-Based Learning
·         Authentic Instruction
·         Inquiry- based Learning
·         Project- Based Learning
·         Work- based Learning
·         Servis Learning
·         Cooperatif Learning
Factor yang harus di pertimbang kan dalam metode Contextual Teaching Learning.
  • Merencanakan pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental ( developmentally appropriate)
  • membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups)
·         memperti,bangan keberagaman peserta didik (idsversity of student).
  • menyediakan lingkungan yangmendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning ) dengan tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan stategi, dan motivasi berkelanjutan.
·         memperhatikan multi intelegensi
  • menggunakan teknik bertanya  (questioning ) dalam rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan ketrampilan berfikir tingkat tinggi.
  • mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia di beri kesempatan untuk belajar menemukan dan mengontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ( contruktivism)
  • memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
  • mengembangkan rasa ingintahu (curiueity) di kalngan peserta melalui pengajuan pertanyaan (questioning)
  • menciptakan masyarakat belajar (learning comonity) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik..
  • memodelkan (modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru.
  • mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentanga apa yang sudah di pelajari.
  • menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)
Komponen yang ada di dalam metode contextual Teaching learning adalah sebagai berikut.
·         kontruktivisme ( Contruktivisme)
·         Menemukan (Inquiry)
·         Bertanya ( Questioning )
·         Masyarakat Belajar ( Learning Community )
·         Pemodelan ( Modeling )
·         Refleksi ( Reflection )
·         Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assesment)

B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan yang kami buat dengan tidak sengaja, maka dari itu kritik dan saran dari para pembaca  sangatlah kami butuhkan untuk perbaikan makalah yang selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

*      Suhana, Cucu dan Hanafiah, Nanang. 2009. “Kosep strategi pembelajran”  Bandung : PT Refika Aditama.
*      Azhar, Imam. 2011. “The Empowering Learning”. Jogjakarta: Insyira






        


Tidak ada komentar:

Posting Komentar