Makalah
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
Untuk memenuhi
tugas mata kuliah
Model
dan Strategi Pembelajaran
Dosen pembimbing:
Imam Azhar , M. Pd
Oleh:
Bashoirul Anam
Hanis Susanti
PROGRAN STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
( PAI )
INTEGRATED B1 & B2
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUNAN
DRAJAT
( S T A I D R A )
Kranji
Paciran Lamongan
Tahun 2011
DAFTAR ISI
COVER……………………………………………………………………………….
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang……………………………………………………………….
- Rumusan masalah……………………………………………………………
- Tujuan………………………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN
- Pengertian Contextual Teaching Learning?
- Teori – teori yang melandasi CTL?
- Karakteristik CTL?
- Prinsip - prinsip CTL?
- Pendekatan CTL?
- Factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
- Komponen CTL?
BAB III PENUTUP
- Simpulan …………………………………………………………………….
- Saran…………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah dalam pembelajran
di sekolah selama ini adalah proses pembelajaran yang kuarmng menyenangkan dan
memberdayakan sehingga berujung pada rendahnya hasil belajar siswa.
Sering di temukan di lapangan bahwa guru menguasai
materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan
pembelajaran dengan baik atau mengubah pembelajaran yang memberdayakan. Hal itu
terjdi , salah satunya karena kegiatan tersebut tidak di dasarkan pada
pemilihan dan penerapan model pembelajran tertentu yang mengkomodir
karakteristik subjek didik. Konsekuensinya, hasil belajar yang di peroleh siswa
rendah.
Timbul pertanyan , apakah ada model
pembelajaran yang menyenangkan dan memberdayakan dan apakah mungkin di
kembangkan suatu model pembelajran yang sederhana, namun sistematik dan
bermakna yang dapat di gunakan oleh para guru sebagai dasar untuk melaksanakan
kegiatan pembelajaran dengan baik sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi
berprestasi dan hasil belajar.
Berkenaan dengan hal itu, maka dengan memperhatikan
berbagai teori dan konsep belajar yang telah ada, dalam tulisan ini, penulis akan
mengupas tentang model pembelajaran yang efektif bagi siswa dan guru agar
tercipta proses pembelajaran yang menyenangkan dan memberdayakan.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Contextual Teaching Learning?
2.
Apa saja Teori
– teori yang melandasi CTL?
3.
Bagimana Karakteristik
CTL?
4.
Sebutkan Prinsip
- prinsip CTL?
5.
Bagaimana Pendekatan CTL?
6.
Apa Factor
– factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
7.
Sebutkan Komponen CTL?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian Contextual Teaching Learning?
2.
Untuk
mengetahui Teori – teori yang melandasi CTL?
3.
Untuk
mengetahui Karakteristik CTL?
4.
Untuk
mengetahui Prinsip - prinsip CTL?
5.
Untuk mengetahui Pendekatan CTL?
6.
Untuk
mengetahui Factor – factor yang mempertimbangkan dalam CTL?
7.
Untuk
mengetahui Komponen CTL?
BAB II
PEMBAHASAN
CONTEXTUAL TEACHING
LEARNING
A.
Pengertian Contextual Teaching Learning
Contextual Teaching Learning merupakan
suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta
didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik
berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural.
Sehingga peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat
diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke
permasalahan lainnya.
B.
Teori yang melandasi CTL
Beberapa teori yang berkembang
berkaitan dengan metode Contextual
Teaching Learning adalah sebagai berikut :
a.
Knowledge-Based
Constructivism
Teori ini beranggapan bahwa belajar bukan menghafal,
melainkan mengalami, di mana peserta didik dapat mengkonstruksi sendiri
pengetahuannya, melalui partisipasi aktif secara inovatif dalam proses
pembelajaran.
b.
Effort-Based
Learning/ Incremental Theory of Intellegence
Teori ini beranggapan bahwa bekerja keras untuk mencapai
tujuan belajar akan mendorong peserta didik memiliki komitmen terhadap belajar.
c.
Sicialization
Teori ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses
sosial yang menentukan terhadap tujuan belajar. Oleh karena itu, faktor sosial
dan budaya merupakan bagian dari sistem pembelajaran.
d.
Situated
Learning
Teori ini beranggapan bahwa pengetahuan dan pembelajaran
harus situasional, baik dalam konteks secara fisik maupun konteks sosial dalam
rangka mencapai tujuan belajar.
e.
Distributed
Learning
Teori ini beranggapan bahwa manusia merupakan bagian
integral dari proses pembelajaran, yang di dalamnya harus ada terjadinya proses
berbagai pengetahuan dan bermacam-macam tugas.
C. Karakteristik CTL
Karakteristik Contextual Teaching Learning adalah sebagai berikut :
a.
Kerjasama
antar peserta didik dan guru (cooperative).
b.
Saling
membantu antar peserta didik dan guru
(assist).
c.
Belajar
dengan bergairah (enjoyfull learning).
d.
Pembelajaran
terintegrasi secara kontekstual.
e.
Menggunakan
multi media dan sumber belajar.
f.
Cara
belajar siswa aktif (student active
learning).
g.
Sharing
bersama teman (take and give).
h.
Siswa
kritis dan guru kreatif.
i.
Dinding
kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
j.
Laporan
siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil
praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
D.
Prinsip CTL
Prinsip-prinsip Contextual Teaching Learning adalah
sebagai berikut :
a.
Kesaling-Bergantungan
( Interdependensi )
Prinsip ini membuat hubungan yang
bermakna (making meaningfull connections)
antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik
berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa
datang.
Prinsip ini mengajak para pendidik
mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik,
stakeholder, dan lingkungannya.
Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif
dalam kelompok, membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain,
saling mengemukakan gagasan, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpiulkan
data, mengolah data, dan menemukan alternatif pemecahan masalah.
Prinsipnya menyatukan berbagai pengalaman dari
masing-masing peserta didik untuk mencapai standar akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui
pengidentifikasian tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya.
b.
Perbedaan
( Diferensiasi )
Prinsip diferensiasi adalah mendorong
peserta didik menghasilkan keberagaman, perbedaan, dan keunikan. Terciptanya
kemandirian dalam belajar (self-regulated
learning) yang dapat mengkonstruksi minat peserta didik untuk belajar
mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan
nyata, dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness).
Terciptanya berpikir kritis dan
kreatif (critical and creative thinking)
di kalanga peserta didik dalam rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data,
guna pemecahan masalah.
Terciptanya kemampuan peserta didik
untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan dan
mengembangkan gaya belajar (style of
learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan potensinya seoptimal
mungkin secar sktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
c.
Pengaturan
diri
Prinsip pengaturan diri menyatakan
bahwa proses pembelajaran dietur, dipertahankan, dan disadari oleh peserta
didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh potensinya. Peserta didik
secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri,
menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis
informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
Melalui interaksi antarsiswa akan
diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi,
kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan menemukan sisi
keterbatasan diri.
d.
Penilaian
Autentik ( Authentic Assessment )
Penggunaan penilaian autentik, yaitu
menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis
baru dan keterampilannya ke dalam situasi konstektual secara signifikan.
E. Pendekatan CTL
Beberapa
pendekatan yang digunakan dalam metode Contextual
Teaching Learning adalah sebagai
berikut :
a.
Problem-Based
Learning
Problem-Based Learning, yaitu
pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks
sehingga peserta didik dapat belajar berpikir kritis dalam melakukan pemecahan
masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esnsial
dari bahan pelajaran.
b.
Authentic
Instruction
Authentic Instruction, yaitu pendekatan pembelajaran
yang memperkenankan peserta didik mempelajari konteks kebermaknaan melalui
pengembangan keterampilan berpikir dan mellakukan pemecahan masalah di dalam
konteks kehidupan nyata.
c. Inquiry- based Learning
Inqury-
based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran dengan mengikuti metologi sains dan memberi kesempatan untuk
pembelajaran bermakna.
d. Project- Based Learning
Project- Based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran
yang memperkenankan peserta didik untuk bekerja mandiri dalam mengkontruksi
pembelajrannya ( pengetahuan dan ketrampilan baru), dan mengkulminasikannya
dalam produk nyata.
e. Work- based Learning
Work- based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari
bahan ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja.
f. Servis Learning
Servis Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang
menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai
keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui tugas terstruktur dan
kegiatan lainnya.
g. Cooperatif Learning
Cooperatif Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan kelompok kecil peserta didik untuk berkerja sama dalam rangka
mengoptimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
F. factor –
factor yang mempertimbangkan dalam CTL
Berikut ini merupakan beberapa factor
yang harus di pertimbang kan
dalam metode Contextual Teaching Learning.
1.
Merencanakan
pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental ( developmentally appropriate)
2.
membentuk
kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups)
3.
memperti,bangan
keberagaman peserta didik (idsversity of student).
4.
menyediakan
lingkungan yangmendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning ) dengan
tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan stategi, dan
motivasi berkelanjutan.
5.
memperhatikan
multi intelegensi
6.
menngunakan
teknik bertanya (questioning ) dalam
rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan ketrampilan
berfikir tingkat tinggi.
7.
mengembangkan
pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia di beri
kesempatan untuk belajar menemukan dan mengontruksi sendiri pengetahuan dan
ketrampilan baru ( contruktivism)
8.
memfasilitasi
kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan
dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
9.
mengembangkan
rasa ingintahu (curiueity) di kalngan peserta melalui pengajuan pertanyaan
(questioning)
10.
menciptakan
masyarakat belajar (learning comonity) dengan membangun kerja sama di antara
peserta didik..
11.
memodelkan
(modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi
dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru.
12.
mengarahkan
peserta didik untuk merefleksikan tentanga apa yang sudah di pelajari.
13.
menerapkan
penilaian autentik (authentic assessment)
G. Komponen CTL
beberapa komponen yang ada di dalam
metode contextual Teaching learning adalah sebagai berikut.
1.
kontruktivisme
( Contruktivisme)
Contextual Teaching Learning di bangun dalam landasan
kontruksivisme yang mermiliki anggapan bahwa pengetahuna di bangun pesrta didik
secra sedikit – demi sedikit (incremental ) dan hasilnya di perluas melalui
konteks terbatas.
2.
Menemukan
(Inquiry)
Proses pembelajaran yang di lakukan peserta didik
merupakan proses menemikan (inquiry) terhadap sejumlah pengetahuan dan
ketrampilan. Proses inquiry terdiri atas:
a.
Pengamatan ( observation)
b. Bertanya (questioning )
c.
Mengajukan dugaan(hipotesis)
d. Pengumpulan data ( data gathering)
e.
Penyimpulan ( conclusion)
3.
Bertanya (
Questioning )
Proses bertanya begitu berarti dalam
rangka :
a.
Membangun
oerhatian
b.
Membangun
minat
c.
Membangun
motivasi
d.
Membangun
sikap
e.
Membangun
rasa keingintahuan
f.
Membangun
interaksi antara sisiwa dengan siswa
g.
Membangkitkan
interaksi antara siswa dan guru
h.
Interaksi
antara siswa dengan lingkungannya secara kotekstual
i.
Membangun
lebih banyak lagi pertanyaan yang di lakukan siswa dalam rangka menggali dan
menemukan lebihbanyak informasi (pengetahuan dan ketrampilan yang di peroleh
peserta didik).
4.
Masyarakat
Belajar ( Learning Community )
Proses pembelajran merupakan proses
kerja sama antara peserta didik dengan peserta didik , antara peserta didik
dengan gurunya, dan antara peserta didik dengan lingkungannya.
Proses pembelajaran yang segnifikan
jika di lakukan dalam kelompok – kelompok belajar, baik secara homogen maupun
secara heterogen sehingga di dalannya akan terjadi berbagi masalah (sharing
problem ), berbagi informasi ( sharing information), berbagi pengalaman ( sharing experience ), dan berbagi pemecahan
masalah ( sharing problem solving) yang memungkinkan semakin banyaknya
pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh.
5.
Pemodelan
( Modeling )
Proses pembelajaran akan lebih
berarti jika di dukung dengan adanya pemodelan yang dapat di tiru , baik yang
bersifat kejiwaan ( identifikasi ) maupun yang bersifat fisik ( imitasi)yang
berkaitan dengan cara untuk mengoperasikan sesuatu aktifitas, cara untuk
menguasai pengetahuan atau keterampilan tertentu.
Pemodelan dalam pembelajaran bias di
lakukan oleh guru, peserta didik, atau dengan cara mendatangkang nara sumbr dari luar (
outsourcing), yang terpenting dapat membantu terhadap ketuntasan dalam belajar
(mastery learning ) sehingga peserta didik dapat mengalami akselerasi perubahan
secara berarti.
6.
Refleksi (
Reflection )
Refleksi dalam pembelajaran adalah
cara berfikir tentang apa yang baru di
pelajarinya atau berfikir ke belakang tentang apa – apa yang sudah di lakukan
atua di pelajarinya di masa lalu.refleksi pembelajaran merupakan respon
terhadap aktivitas atau pengetahuan dan ketrampilan yang baru di terima dari
proses pembelajara. Peserta didik di tuntut untuk mengedepamnkan apa yang baru
di pelajarinya sebagai struktur pengethuan dan ketrampilan yang baru sebagai
wujud pengayaan atau revisi dari
pengetahuan dan keterampilan sebelumnya.
Guru harus dapat membantu peserta
didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan
pengetahuan yang baru. Dengan demikian, peserta didik akan memperolehsesuatu
yang berguna bagi dirinya mengenai apa yang baru dipelajarinya.
Pada akhir proses pembelajaran sebaiknya
guru menyisakan waktu agar peserta didik melakukan refleksi, yang diwujudkan
dalam bentuk :
a.
Pernyataan
langsung peserta didik tentang yang diperoleh hari itu;
b.Jurnal belajar di buku pribadi peserta didik;
c.
Kesan dan
saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
7.
Penilaian
yang sebenarnya ( Authentic Assesment)
Penilaian merupakan proses
pengumpulan data yang dapat mendeskripsikan mengenai perkembangan perilaku
peserta didik. Pembelajaran efektif adalah proses membantu peserta agar mampu
mempelajari (learning to learn) bukan hanya menekankan pada diperolehnya
sebanyak mungkin informasi di akhir pereode.
Oleh karena penilaian menekankan pada proses
pembelajaran, data yang dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa
pada saat melakukan pembelajaran. Kemajuan belajar peserta didik dinilai dari
proses, tidak semata dari hasil. Oleh karena itu, penilaian authentic merupakan
proses penilaian pengetahuan dan keterampilan (performasi) yang diperoleh siswa
dimana penilai tidak hanya guru, tetapi juag teman siswa ataupun orang lain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Contextual Teaching Learning merupakan
suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta
didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik
berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural.
Teori yang melandasi CTL
·
Knowledge-Based
Constructivism
·
Effort-Based
Learning/ Incremental Theory of Intellegence
·
Sicialization
·
Situated
Learning
·
Distributed
Learning
Karakteristik Contextual Teaching Learning:
·
Kerjasama
antar peserta didik dan guru (cooperative).
·
Saling
membantu antar peserta didik dan guru
(assist).
·
Belajar
dengan bergairah (enjoyfull learning).
·
Pembelajaran
terintegrasi secara kontekstual.
·
Menggunakan
multi media dan sumber belajar.
·
Cara
belajar siswa aktif (student active
learning).
·
Sharing
bersama teman (take and give).
·
Siswa
kritis dan guru kreatif.
·
Dinding
kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa.
- Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
Prinsip-prinsip Contextual Teaching Learning adalah
sebagai berikut :
·
Kesaling-Bergantungan
( Interdependensi )
·
Perbedaan
( Diferensiasi )
·
Pengaturan
diri
·
Penilaian
Autentik ( Authentic Assessment )
Pendekatan yang
digunakan dalam metode Contextual
Teaching Learning adalah sebagai
berikut :
·
Problem-Based
Learning
·
Authentic
Instruction
·
Inquiry-
based Learning
·
Project-
Based Learning
·
Work-
based Learning
·
Servis
Learning
·
Cooperatif
Learning
Factor yang harus di pertimbang kan dalam metode
Contextual Teaching Learning.
- Merencanakan pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental ( developmentally appropriate)
- membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups)
·
memperti,bangan
keberagaman peserta didik (idsversity of student).
- menyediakan lingkungan yangmendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning ) dengan tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan stategi, dan motivasi berkelanjutan.
·
memperhatikan
multi intelegensi
- menggunakan teknik bertanya (questioning ) dalam rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan ketrampilan berfikir tingkat tinggi.
- mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia di beri kesempatan untuk belajar menemukan dan mengontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ( contruktivism)
- memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
- mengembangkan rasa ingintahu (curiueity) di kalngan peserta melalui pengajuan pertanyaan (questioning)
- menciptakan masyarakat belajar (learning comonity) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik..
- memodelkan (modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru.
- mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentanga apa yang sudah di pelajari.
- menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)
Komponen yang ada di dalam metode
contextual Teaching learning adalah sebagai berikut.
·
kontruktivisme
( Contruktivisme)
·
Menemukan
(Inquiry)
·
Bertanya (
Questioning )
·
Masyarakat
Belajar ( Learning Community )
·
Pemodelan
( Modeling )
·
Refleksi (
Reflection )
·
Penilaian
yang sebenarnya ( Authentic Assesment)
B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam
pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan yang kami buat dengan tidak
sengaja, maka dari itu kritik dan saran dari para pembaca sangatlah kami butuhkan untuk perbaikan
makalah yang selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar