PEMBELAJARAN SUPER BRAIN
A.
Konsep Metode Pembelajaran Super Brain
Metode Pembelajaran Super
Brain menjelaskan tentang bagaimana merancang kegiatan pembelajaran yang
melibatkan semua komponen otak. Yaitu: otak emosional, otak sosial, otak
kognitif, otak kinestetik dan otak reflektif.
Adapun menurut McClean,
proses evaluasi mengacu pada tiga bagian otak manusia, yaitu:
1.
Otak besar (Neokorteks) yang
memiliki fungsi utama untuk berbahasa, berfikir, belajar, memecahkan masalah,
merencanakan dan mencipta.
2.
Otak tengah (sistem limbik)
berfungsi untuk interaksi sosial, emosional, dan ingatan jangka panjang.
3.
Otak kecil (otak reptil)
berfungsi untuk bereaksi, naluriah, mengulang, mempertahankan diri, dan
ritualis.
Dalam Metode Pembelajaran
Super Brain disebutkan bahwa semua pengetahuan pasti ada manfaatnya, karena itu
jangan pernah menyesal denga apa yang pernah kita pelajari atau kita baca.
Karena suatu saat akan bermanfaat.
Postulat
lain menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar baru. Tetapi hanya
ada kombinasi-kombinasi baru sehingga ditemukanlah ide baru. Karena itu peserta
didik perlu diajari untuk tidak pernah berhenti berfikir. Karena berfikir
merupakan proses menyimpan informasi. Semakin banyak otak digunakan untuk
berfikir, semakin banyak informasi yang disimpan karena kapasitas otak tidak
terbatas.
B.
Alasan Menggunakan Metode Pembelajaran Super Brain
Sebagai metode baru, Metode
Pembelajaran Super Brain cocok untuk diterapkan oleh para pendidik dalam KBM
(kegiatan belajar mengajar), diantara beberapa alasannya adalah sebagai
berikut:
1. Dapat
memberikan perubahan mendasar sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran tidak saja menjadi sangat efektif, tapi juga hampir seluruh
potensi yang dimiliki peserta didik akan tergarap dan terbangkitkan secara
lebih optimal.
2. Meminimalisir
adanya perkembangan emosi negatif, perlu diketahui bahwasannya kurangnya
stimulasi dan eksplorasi terhadap otak anak akan menghambat perkembangannya.
Hal ini dibuktikan pada hewan yang dipelihara dikebun binatang memiliki otak
20% sampai 30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam
liar.
3. Menjadikan
karakter anak semakin kuat. Dalam membentuk karakter anak, otak kiri dan otak
kanan bekerja seimbang. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar/salah yang
merupakan domain otak kanan, dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan
domain otak kiri.
4. Peserta
didik mampu merekam dan menyimpan informasi dengan baik.
5. Pendidik dapat
memperbaiki dan melejitkan kualitas pendidikan.
6. Dapat
dijadikan rujukan dalam membuat kurikulum.
C.
Strategi Metode Pembelajaran Super Brain
Pembelajaran dengan
berorientasi kepada upaya pemberdayaan potensi peserta
didik ada tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi metode
super brain. Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang lingkungan
berfikir peserta didik. Kedua, menciptakan lingkungan pembelajaran yang
menyenangkan. Dengan cara menhindari situasi pembelajaran yang membuat peserta
didik merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat didalamnya. Ketiga,
menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi peserta didik.
Peserta didik sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk
dapat membangun pengetahuan mereka. Sedangkan pendidik berusaha membangun
situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh peserta didik beraktifitas
secara optimal.
D.
Aplikasi Metode Pembelajaran Super Brain
Dalam Metode Pembelajaran
Super Brain pendidik sering memberikan soal-soal materi pelajaran yang
menfasilitasi kemampuan berfikir peserta didik dari mulai tahap pengetahuan
(knowledge) sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas seatraktif dan
semenarik mungkin misalnya melalui teka-teki, simulasi games, dan sebagainya,
agar peserta didik dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya
dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
Selain itu, bisa juga dengan
melakukan pembelajaran diluar kelas pada saat tertentu. Untuk pembelajaran
dalam kelas diiringi dengan musik yang di desain secara cepat sesuai kebutuhan
dikelas, serta melakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang
diselingi dengan permainan-permainan menarik.
Disamping itu, bisa
mengunakan anggota tubuh untuk merangsang kerja otak. Misalnya mata peserta
didik digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan peserta didik bergerak
untuk menulis, kaki peserta didik bergerak untuk mengikuti permainan dalam
pembelajaran dan mulut peserta didik aktif bertanya dan berdiskusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar